MBANGUN NIKAH

Gambar: kantormeme.blogspot.com

Realitas yang ada di semesta alam adalah kitab teles (basah). Manusia sebagai makhluk dengan akal yang canggih berlahan mulai dapat membaca kitab teles yang disediakan alam.

Dari penggunaan akal dalam membaca kitab teles itulah kemudian melahirkan Budhi. Secara sederhana Budhi adalah pemahaman Manusia pada suatu realitas yang ada.

Dari akal yang melahirkan Budhi, kemudian Manusia bernaluri menuliskan realitas – realitas yang dipahaminya. Apa – apa yang ditulis ini disebut dengan kitab garing (kering). Karena itu perintah pertama bagi Manusia adalah untuk membaca. Membaca apa? Tentu membaca kitab teles dan kitab garing.

Ada realitas di masyarakat Jawa yang biasa disebut Mbangun nikah. Apa itu mbangun nikah? Secara sederhana mbangun nikah dapat berarti nikah ulang dengan pasangan yang sama. Kenapa bisa demikian?

Mbangun nikah adalah salah satu solusi untuk mengatasi masalah – masalah yang menimpa sebuah rumah tangga. Khususnya masalah – masalah yang “tercipta” dari waktu nikah yang kurang tepat.

Misal ada rumah tangga yang terus menerus berkonflik, setelah dilihat waktu nikahnya ternyata ada bentrokan energi. Maka solusi yang diberikan bisa dengan mbangun nikah, selain memperbanyak berbuat baik dan terus belajar meningkatkan kesadaran.

Waktu nikah memang penting. Sebab disadari atau tidak kita sebagai bagian kecil dari alam sangat dipengaruhi oleh waktu. Dimana waktu memberikan banyak “aturan” dalam hidup.

Kiranya budaya mbangun nikah dapat benar – benar memperbaiki kehidupan rumah tangga. Dan budaya mbangun nikah tidak disalah pahami. Mari terus mengembangkan kesadaran, sebab hidup adalah proses belajar.

Leave a Comment